
Strategi pemasaran pada sebuah perusahaan memang mutlak diperlukan, hal ini sangat erat kaitanya dengan OMSET penjualan perusahaan tersebut.
tanpa strategy pemasaran sebuah perusahaan akan mengalami kebuntuan pada masalah penjualan. meskipun mereka memiliki sumber daya yang dibutuhkan. ibarat peperangan prajurit banyak tapi tanpa siasat dan taktik akan terlihat siapa yang akan kalah. hal ini juga yang selalu dibahas pada buku-buku seni perang "Sun Tzu" yang kemudian banyak dipakai seorang Manager Pemasar.
biasanya sebuah perusahaan besar akan memiliki departemen khusus untuk menggodok strategy pemasaran perusahaan. apakah dengan membangun brand image produk, pengembangan produk baru yang di khususkan pangsa pasarnya, memperhatikan dan mengkaji strategi pesaing, memperhatikan tren pasar, dll yang tentunya akan menghasilkan masukan ide pada perusahaan. bahkan melakukan "Black Taktik" untuk mengalahkan pesaingnya. hal ini sah-sah saja di dalam persaingan pasar yang mengusung kebebasan. kalo kita ingat ada pepatah lama yang mengatakan "politik itu kejam". dan saya asumsikan bahwa politik di situ lebih ke persaingan di dalam politik (mempertahankan dan memperebutkan kekuasaan) bukan pada kegiatan politiknya. untuk memenangkan sebuah persaingan dalam politik atau bisnis (wirausaha) yang digelutinya orang bisa melakukan berbagai cara. seperti, Black Campaigne dan Black Strategy & tactic.
hal inilah yang kemudian membedakan satu politisi dengan politisi lain atau seorang wirausaha dengan wirausaha lain. waduhh.. sebenernya gak ngerti politik nih.. :P
perusahaan besar sangat memandang perlu memakai strategy dan taktik untuk mempertahankan dan pengembangan produknya. berbeda dengan kebanyakan perusahaan UKM yang kadang tidak memandang bahwa strategy pemasaran hanya sebagai bagian yang biasa dan lebih mementingkan hal lain, seperti proses produksi, efesiensi biaya-biaya, pemupukan modal. semua memang penting, tetapi semua itu akan menjadi buntu ketika "TIM Pemasar" tidak mampu mengembangkan omset penjualan.
secara teory dan praktek Pada umumnya perusahaan dengan market share yang besar itu mendatangkan profit yang tinggi. Akan tetapi apakah keadaan yang membanggakan ini cocok untuk suatu perusahaan memainkan “the market share game” adalah suatu persoalan yang tersendiri.
Di dalam bukunya yang berjudul ‘Competitive Strategy’. Michael Porter telah menguraikan hasil risetnya yang cukup menarik. Di sini ia mengatakan bahwa perusahaan – perusahaan yang paling menguntungkan atau yangn ROI – nya paling tinggi biasanya adalah perusahaan yang mempunyai SOM ( Share Of Market ) yang tinggi atau kecil sekali. Mereka yang SOM nya tanggung umumnya kurang begitu menguntungkan.
SOM tinggi biasanya untuk produk yang banyak dipakai masyarakat. saya analogikan disini persaingan Toko KelontongMini Market. dan SOM yang kecil untuk produk yang sedikit pemakai tapi fanatik dalam hal ini saya analogikan Toko Komputer dan Laptop. Pembeli laptop lebih sedikit daripada yang beli kebutuhan sehari-hari. namun tingkat persaingan memperebutkan konsumen antar toko komputer lebih kecil bila dibandingkan dengan tingkat persaingan Toko Kelontong/Mini Market. hal ini yang kadang terlupakan oleh kita. kita berfikir bahwa berjualan kebutuhan sehari-hari seperti: Beras, Gula, Kopi, Rokok (dua terakhir kebutuhan se-malam2 ^^ para blogger u/ menemani nge-Blog) apalagi Rokoknya Djarum Black wahh.. gak kerasa tuh tau-tau asbak penuh z.. tapi kopi masih penuh..wkwkwkwk.. :P lanjutt.. susu, shampo, sabun dan kebutuhan2 lainya tidak akan merugi coz semua orang membutuhkanya. tapi tidak sadar kalo toko kelontong itu banyak dan bejibun. akhirnya tetep butuh strategy dan taktik kalo ingin tokonya tetep rame. berbeda dengan market share pengguna komputer n laptop, paling per-kantoran swasta dan pemerintahan. meskipun ada pengguna rumahan namun sipatnya tetep untuk mendukung pekerjaan mereka dikantor. walaupun kemudian trend kebutuhan untuk barang komputer semakin penting dan dibutuhkan. (wah.. gara2 facebook lagi nih..)namun tidak seperti kebutuhan sehari-hari. mereka bisa menunggu sampai mereka punya uang u/ membeli. selain itu untuk membuka toko komputer memerlukan modal yang tidak sedikit hingga tidak semua orang bisa melakukanya dengan mudah. butuh skill dan pengalaman. hal ini yang kemudian menjadikan market share yang kecil, namun pasti tetep ada persaingan sehingga butuh strategy dan taktik dalam menjalankan usahanya. hufftt...
seperti yang dibahas oleh Henky njotowidjaja (seorang konsultan management sekaligus wirausaha) dalam situsnya :
Dalam praktek telah terbukti bahwa profit dan SOM tidak dapat ditingkatkan secara bersama. Itulah sebabnya usaha meningkatkan SOM sering disebut sebagai ‘buying market share’. Tentu saja ‘membeli market share’ bukan persoalan yang gampang. Sejauh mana ada perusahaan yang mau menjual ‘Market Share’nya begitu saja kepada perusahaan lain? Oleh karena itu dalam praktek lebih banyak terjadi ‘market share war fare’ dari pada sekedar transaksi ‘market share’.
Market Share Warfare
Bagaimana sebenarnya setiap perusahaan itu berusaha meningkatkan market sharenya tentu mempunyai strategi masing – masing. Untuk memperebutkan suatu market share selain diperlukan suatu perjuangan yang gigih juga perlu mempratekkan taktik tertentu untuk meningkatkan market share itu sendiri.
Menurut Donald W. Hendon, seorang profesor Marketing dari Arkansas State University, taktik dan strategi meningkatkan pasar itu ada 3 macam.
Yang pertama sering disebut dengan ‘win-win approach’. Dalam pendekatan ini, sasaran utamanya ada ‘more for everybody’. Artinya adalah bagaimana setiap perusahaan mengerahkan segala upayanya agar semua orang semakin membeli lebih banyak sehingga hal ini meningkatkan market share nya. Yang kedua lebih dikenal dengan ‘dog in the manger approach’. Pendekatan ini lebih memberikan tekanan utama pada ‘more for me’. Hal itu berarti bagaimana sebuah perusahaan meningkatkan penjualannya agar market sharenya terus meningkat. Yang terakhir adalah ditekankan dari segi pertahanan dan disebut sebagai ‘deversive approach’. Tekanan yang dipentingkan disini adalah mempertahankan ‘statusquo’ perusahaan dalam persaingan di pasar. Ketiga pendekatan ini merupakan suatu taktik dan strategi meningkatkan market share secara praktis. Mengapa hal itu dikatakan begitu ?
Pasalnya adalah bahwa taktik dan strategi ini dapat memberikan petunjuk petunjuk yang praktis dan langkah langkah konkrit yang harus diambil perusahaan. Hal ini tampak jelas sekali kalau kita mau menelusuri bukunya profesor Don Hendon yang berjudul ‘Batlling for profit’.
Staretegy ‘win-win approach’
Seperti telah diuraikan sebelumnya pada hakekatnya setiap perusahaan berusaha meningkatkan penjualan ‘more for everybody’. Paling tidak terdapat tujuh taktik untuk melakukan strategi ini :
- Perusahaan dapat meningkatkan penjualannya kepada kelompok pembeli yang disebut ‘non user’. Untuk menggait kelompok ini kita harus memeras imaginasi yang kreatif.
- Perusahaan didorong untuk dapat meningkatkan pembelian dari kelompok yang disebut ‘present user’.
- Perusahaan dapat melakukan versifikasi pasar dengan bergerak cepat ke daerah yang disebut ‘new geografical market’.
- Perusahaan mencetuskan kerjasama institusional yang menguntungkan dengan kerjasama antara asosiasi perusahaan sejenis untuk merintis dan mensponsori iklan yang memberikan informasi yang lluas.
- Perusahaan mencari dan menggunakan saluran distribusi yang baru menjual hasil produksinya dan bersikeras mempertahankan cara yang tradisional.
- Suatu perusahaan dapat menonjolkan manfaat lain atau ‘new uses’ dari produk yang dihasilkannya sehingga memperluas target pasar yang ditentukan.
- Suatu perusahaan dapat saja bekerjasama dengan saingannya untuk berbagi hasil mengenai hak paten berdasarkan suatu royalti tertentu sejauh masih lebih menguntungkan.
- Terdapat lebih banyak produk baru yang dikembangkan dan ditambahkan dalam jalur oleh ‘share – gaining companies’.
- Apabila kualitas produksi itu meningkat lebih tinggi dengan saingannya, mereka dapat memperoleh market share.
- Seandainya mereka itu menambah biaya pemasaran yang lebih cepat dari pada tingkat pertumbuhan pasar, hal itu berarti meningkatkan market share. Akan tetapi perlu dipertanyakan sejauh mana dapat ditelusuri biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran ini.
- Seandainya diperlukan, langkah langkah untuk mematikan musuh perlu ditempuh dengan memanfaatkan bantuan dari supplier, distributor, lobby perundang-undangan, dan para legislator. Seringkali cara ini tidak dianjurkan karena alasan etika moral.
- Sejauh mana perusahaan mampu melakukan inovasi secara terus menerus? Ide tentang produk baru dan produk dengan ukuran dan bentuk baru dapat menghambat pendatang baru untuk masuk pasar. Disamping itu perlu dilakukan suatu peningkatan terhadap pelayanan jasa, saluran distribusi, dan tingkat investasi untuk produk yang baru.
- Perusahaan perlu melakukan ‘flankin defense’. Sebagai misal hal ini dapat dipelajari dari kasus K-mart Corporation dan Colgate Palm Olive Company. Pendirian K-mart Store sebagai pion untuk menyerang dan melakukan tindak balasan dalam perang diskonto berhasil menjadi store terbesar di AS. Colgate PO. Company yang dulunya merupakan underdog dalam bisnis Proter & Gamble kini telah merubah posisinya karena peningkatan kepemimpinan di luar AS dan diversifikasi terhadap barang penjualannya.
- Perusahaan kadang-kadang harus melakukan ‘preemtive defence’, yaitu melakukan serangan terhadap musuh sebelum ia menyerang lebih dahulu. Sebagai misal Seiko melakukan apa yang disebut ‘encirclemen attack tactic’ dengan melakukan serangan di segala bidang. Akhirnya Seiko berhasil menguasai jalur distribusi dan pengembangan produknya.
- Perusahaan menggunakan ‘counter offensive devense’ dimana perlu dipelajari keadaan secara teliti sehingga selain dapat menahan serangan musuh ia juga melakukan serangan balasan yang mematikan. Dalam hal ini banyak kasus yang dapat dikemukakan sebagai contoh. Seperti halnya persaingan Seville Cadilllac terhadap Mercedes Benz, dan Dial Soap dengan Palmolive Gold, Safeguard, Coast, Zest dan lain lain.
- Disamping itu juga perlu dilakukan taktik seperti ‘mobil defense, contraction defense dan passive position defense’ banyak contoh yang dikemukakan disini. Akan tetapi yang terpenting adalah setiap perusahaan perlu berpikir panjang dalam persaingan, mengurangi kelemahan dan memupuk kekuatan, serta mempersiapkan suatu senjata yang ampuh untuk menyongsong musuh yang datang menyerang.
1 komentar:
mantap, bagus, tulisan ideal tuk kompetisi
salam sukses
Posting Komentar